Novel, Berawal Dari Diskusi Berdua


Waktu menunjukkan pukul 04.42 WITA ketika aku lihat jam pada layar telefon genggamku, seketika itu pula aku bergegas menuju kamar mandi untuk mandi. Seperti biasa aku memulai aktifitas harianku setelah mandi pagi, dan ritual ini menjadi rutinitasku dimanapun aku berada, baik selama aku berada di Korea, maupun ketika aku sudah kembali ke Indonesia sekarang ini. Sebelum mandi, aku mencuci beras terlebih dahulu, aku memasak nasi sebelum aku tinggal mandi. Selesai mandi, aku memakai baju santai yang biasa aku pakai dirumah, aku tidak segera memakai pakaian yang seharusnya aku pakai untuk pergi mengajar karena aku masih harus menyelesaikan pekerjaan dirumah seperti, merapikan tempat tidur, membersihkan kamar, menyapu halaman rumah,dan menyiapkan sarapan untukku sendiri. Aku mulai merapikan tempat tidurku, mengambil bantal yang terjatuh, aku tidak tahu kenapa bantal itu jatuh, mungkin ketika aku tidur banyak melakukan gerak, jadinya semua sprei mnjadi kusut, bahkan bantal dan guling pun entah kemana posisinya.

            Setelah tempat tidur rapi, aku menyapu lantai kamarku, banyak potongan kertas berserakan di lantai kamarku sehingga lantai kamarku terlihat kotor sekali. Aku beralih ke halaman rumah, angin kencang menerpa daun -  daun kering sehingga daun tersebut jatuh berserakan di halaman rumah, aku sapu bagian demi bagian, dari bawah pohon yang letaknya di kanan depan rumah, aku sapu dan aku kumpulkan di keranjang sampah yang letaknya 3 meter dari pohon itu. Nasi yang aku masak tadi telah matang dan kemudian aku mengambil tiga butir telur, aku nyalakan kompor, aku taruh penggorengan diatasnya, kuberi minyak sedikit dan kugorenglah telur tersebut menjadi telur mata sapi. Kenapa telur aku pilih sebagai menu sarapanku? Telur aku pilih karena mudah proses memasaknya, tidak memerlukan waktu yang lama, dan telur banyak mengandung protein, jadi cukuplah bekal yang aku masukkan ke dalam tubuhku sebagai penunjang aktifitasku dari pagi hingga siang nanti. Aku sarapan bersama dengan Inak Bilo dan Heso.

Akupun bergegas menuju ke SDN Oi Marai untuk beraktifitas sebagai guru seperti biasa. Di gerbang sekolah ada beberapa anak yang sudah hadir, mereka mengisi kegiatan pagi dengan berbagai macam aktifitas sebelum bel tanda masuk dibunyikan, ada yang bermain kejar – kejaran, ada yang ngobrol berdiskusi tentang pengalamannya ketika di rumah masing – masing, ada yang melaksanakan piket kelas, ada pula yang sedang ngobrol dengan bapak dan ibu guru yang lain. Kulihat Bu Salmah sudah datang lebih duluan daripada aku, beliau menyapaku dengan salam dan senyuman manis yang mengembang dari bibir merahnya . Aku balas sapaan itu dan kami terlibat diskusi pagi ini.

ʺSelamat pagi Pak Topanʺ sapa Bu Salmah

ʺSelamat pagi juga Bu Salmahʺ sapaku

            Setelah kami berdua berbalas sapaan, Bu Salmah menanyakan sesuatu kepadaku.

            ʺPak Topan, apakah Bapak ada acara siang ini setelah selesai mengajar?ʺ

            ʺTidak ada Bu, apakah ada keperluan penting dengan saya?ʺ tanyaku kemudian

Dengan senyuman yang agak sedikit malu – malu, Bu Salmah melanjutkan pembicaraannya denganku sambil sedikit bergumam

              ʺmmm,,,jika saya ingin mengajak Pak Topan membicarakan sesuatu, apakah Pak Topan bersedia?ʺ

Akupun semakin penasaran dengan pernyataan dari Bu Salmah

              ʺKenapa harus dengan saya, apakah tidak bisa dengan guru yang lain?ʺ

              ʺTidak Pak, karena menurut saya hanya Bapak yang bisa memahami keadaan ini.ʺ jawab Bu Salmah

Rasa penasaranku semakin menjadi – jadi, namun belum sempat aku bertanya lebih lanjut, bel tanda jam pelajaran pertama dimulai sudah berbunyi, dan aku bergegas mempersiapkan diri untuk mengajar, dan aku berpamitan ke Bu Salmah untuk menuju ke kelas sambil aku berkata ʺbaiklah, kita lanjut pembicaraan kita saat istirahat.ʺ Bu Salmah mengangguk dan tetap tersenyum manis.

            Waktu demi waktu berjalan, dan bel tanda istirahat berbunyi. Para siswa SDN Oi Marai berhamburan keluar kelas untuk beristirahat, sebagian dari mereka menuju ke kantin sekolah, dan sebagian lagi bermain bersama temannya di sekitar halaman seklolah. Aku berjalan menuju ke ruang guru, aku menghampiri meja kerjaku, untuk mengambil gelas yang telah terisi dengan air minum. Siang ini terasa sangat panas sehingga membuat ternggorokanku terasa terbakar. Aku meminum air didalam  gelas yang aku pegang hingga habis. Tak lama kemudian Bu Salmah datang dari mengajar di kelas beliau, kebetulan meja kami bersebelahan, sehingga kamipun melanjutkan perbincangan kami yang sempat terputus.

            ʺBagaimana dengan ajakan saya tadi Pak Topan?ʺ tanya Bu Salmah

            ʺApakah saya boleh beripikir dahulu sebelum menjawab?ʺ tanyaku

            ʺBoleh, tetapi saya butuh jawabannya di jam istirahat yang kedua ya Pak.ʺ sahut Bu Salmah

            ʺBaik Bu, saya usahakan.ʺ jawabku

Sesaat aku mengakhiri jawabanku atas permintaan Bu Salmah, bel tanda istirahat telah selesai berbunyi. Akupun segera bersiap untuk masuk ke kelas dan melanjutkan proses belajar mengajar. Aku mengajar sambil memikirkan ajakan dari Bu Salmah tadi. Hal apa yang ingin diceritaka Bu Salmah kepadaku? Apa yang harus aku lakukan setelah itu? Segala macam pikiran bergejolak di kepalaku. Walaupun banyak pikiran berkecamuk dalam batinku, proses belajar di kelas tidak terganggu. Bel tanda istirahat kedua berbunyi, maka proses belajar kami istirahatkan sejenak. Aku merapikan buku – buku mengajarku terlebih dahulu sebelum aku beristirahat menuju ke ruang guru. Ternyata Bu Salmah sudah selesai terlebih dahulu, dan beliau sudah duduk di kursi belakang meja kerjanya. Beliau menanyakan ulang perihal pembicaraan kami saat istirahat pertama tadi.

            ʺBagaimana Pak Topan, saya masih menunggu jawabannya lho.” Begitu kata Bu Salmah

Akhirnya akupun menyetujui ajakan Bu Salmah.

            ʺBaiklah Bu, tetapi kita akan mengobrol dimana?ʺ

            ʺAda tempat yang indah, di pinggir pantai dengan udara yang segar, angin sepoi – sepoi, kita bisa ngobrol santai sambil minum air kelapa muda.ʺ

            ʺBaiklah, tapi naik apa nanti kita kesana?ʺ tanyaku kepada Bu Salmah karena aku tidak memiliki kendaraan.

            ʺNaik sepedamotor saya Pak, tapi bapak yang memboncengkan saya ya?ʺ pinta Bu Salmah

            ʺBoleh, saya juga sudah memiliki Surat Ijin Mengemudi, jadi aman jika akan memboncengkan Bu Salmah nanti.ʺ jawabku sambil melihat Bu Salmah tersenyum dan menganggukkan kepala

Jam istirahat telah selesai, aku bergegas mempersiapkan diri untuk memulai pelajaran selanjutnya.

Materi demi materi aku selesaikan hingga jam pelajaran berakhir. Setelah doa pulang selesai, siswa kelasku berpamitan sambil bersalaman satu per satu hingga siswa yang paling akhir. Setelah semuanya pulang, aku bergegas menuju ke ruang guru untuk menghampiri Bu Salmah. Rupanya Bu Salmah sudah bersiap untuk pulang bersamaku, kulihat beliau sudah merapikan meja kerjanya dan memakai jaket untuk melindungi tubuh dari sinar matahari, debu dan angin, jaket diperlukan karena kami akan menempuh perjalanan yang agak jauh menurut Bu Salmah. Meja kerjaku yang belum rapi akhirnya aku rapikan sebentar agar nyaman dipergunakan kembali esok pagi. Meja sudah rapi, buku – buku sudah tertata rapi pula, aku mengambil jaket dan tas milikku yang berada di kursi tempat dudukku. Kami pun menuju tempat parkir sepedamotor yang berada di sebelah utara bangunan gedung sekolah SDN Oi Marai. Kami berpapasan dengan Bu Rusmainah di pintu keluar sekolah, kami menyapa beliau.

            ʺSelamat siang Bu.ʺsapa kami

            ʺSelamat siang Pak Topan dan Bu Salmah. Kompak sekali siang ini, apakah mau ada acara?ʺ

Tanya Bu Rusmainah kepada kami.

            ʺIya Bu, saya sedang ada keperluan bersama dengan Pak Topan untuk membicarakan sesuatu.ʺ begitu jawab Bu Salmah

            ʺBaiklah, tetapi hati – hati dijalan ya.ʺ begitu pesan Bu Salmah kepada kami

            ʺTerimakasih Bu Rusmaniah.ʺ sahut kami sambil bergegas menuju ke parkiran motor.

Bu Salmah memberikan kunci sepedamotornya kepadaku, aku menyambut kunci yang diberikan Bu Salmah. Ternyata Bu Salmah sudah menyiapkan dua helm untuk kami pakai sebagai pelindung kepala demi keselamatan, satu untukku dan satu untuk Bu Salmah. Kupakai helm yang  Kumasukkan kunci ke dalam rumah kunci yang berada di leher sepedamotor, aku putar kunci ke posisi ʺonʺ, kemudian aku pencet tombol ʺstartʺ untuk menyalakan mesin sepedamotor yang akan kami pakai. Suara motor Bu Salmah sangat halus, sampai – sampai nyaris tak terdengar. Sepertinya Bu Salmah rajin merawat motor ini, semua terlihat dari fisik sepedamotornya yang terlihat selalu bersih, dan juga suaranya sangat halus. Bu Salmahpun memboncengku, dengan secara spontan tangannya memegang perutku ketika aku masukkan persneling ke gigi satu dan memulai berjalan pelan – pelan. Tepat pukul 13.24 WITA kulihat waktu di dinding depan Sekolah SDN Oi Marai, dan kamipun mulai meninggalkan sekolah menuju ke pantai yang ditunjukkan oleh Bu Salmah. Letak pantai tersebut berada di sebelah Selatan arahnya dari Sekolah kami, perlu waktu tempuh kurang lebih 30 menit dari Sekolah menuju ke pantai tersebut.

            Angin pantai yang kuat hembusannya menyambut kedatangan kami, Nampak dari kejauhan gulungan ombak pantai yang berbuih menembus sela – sela karang, burung Camarpun beterbangan kian kemari seakan menikmati cerahnya cuaca siang ini. Alam semesta seolah mendukung rencana Bu Salmah yang mengajakku kemari. Cuaca siang ini memang cerah, langit biru dihiasi awan putih yang bergulung – gulung seperti kapas terhilat sangat indah dan betapa luarbiasa indahnya lukisan yang Kuasa ini. Kuparkirkan sepedamotor yang kami naiki di tempat yang teduh. Dan kemudian kami berjalan mencari tempat yang teduh dan nyaman untuk tempat kami ngobrol. Hamparan pasir putih bersih tanpa sampah berserakan membuat tempat ini nyaman dipandang mata, dan mebuat siapapun ingin mendatangi pantai ini. Banyak orang datang kesini siang ini, bukan hanya kami, tetapi banyak pula keluarga yang datang untuk bermain pasir, berenang, atau pasangan  muda – mudi yang datang untuk sekedar mengobrol santai sambil menikmati es kelapa muda yang sangat nikmat untuk pelepas dahaga. Kupesan dua butir kelapa muda untuk kami nikmati bersama. Kami memilih tempat tepat di bawah pohon nangka yang teduh, letaknya sekitar 200 meter dari tempat penjual kelapa muda tadi berada. Kami duduk berhadapan, sehingga kami leluasa untuk saling menadang satu sama lain. Kamipun mulai berbincang dengan hangat, ditemani dua butir kepa muda yang telah kami pesan. Angin semilir menambah sejuk suasana dan seolah mendukung rencana Bu Salmah mengajak ngobrol empat mata siang ini. Sambil menyeruput air kelapa muda yang manis dan segar, secara perlahan aku bertanya kepada Bu Salmah sambil menatap wajahnya.

            ʺ Kita sudah sampai di pantai Bu, hanya berdua kita disini tanpa guru – guru yang lain, apa yang ingin Ibu sampaikan?ʺ

            ʺ Begini Pak, akhir – akhir ini saya merasa gelisah, bahkan sampai tidak bisa tidur karena ada kegalauan di hati saya.ʺ begitu kata Bu Salmah

            ʺ Seberapa besar kegelisahan itu menyelimuti, sampai – sampai Ibu tidak dapat tidur di malam hari.ʺ tanyaku penuh keingintahuan.

Kegelisahan semakin ampak dari raut wajah Bu Salmah.

            ʺ Sebenarnya masalah ini sudah lama terjadi, tetapi karena saya bingung mau saya bicarakan dengan siapa, maka saya berpikir bahwa Pak Topan lah yang pas untuk mendengar curahan hati saya.ʺ

Aku mencoba meyakinkan kepada Bu Salmah, agar bercerita tentang masalahnya secara terbuka.

            ʺ Coba ceritakan Bu, pelan – pelan tidak apa – apa supaya saya segera mengetahui apa inti dari permasalahan yang Ibu alami, dan kita segera mengetahui jalan keluarnya.ʺ

Kemudian perlahan – lahan Bu Salmah memulai bercerita. Aku mulai mendengarkan dengan seksama.

            ʺ Begini Pak Topan, akhir – akhir ini Elang enggan berangkat ke Sekolah, dan saya belum tahu apa penyebabnya, karena setiap kali ditanya, dia memalingkan wajah dan pergi begitu saja.ʺ kata Bu Salmah.

            ʺ Apakah Ibu sudah mencari tahu juga penyebabnya dari teman – temannya yang lain?ʺ tanyaku

            ʺ Sudah tapi baru beberapa, bahkan temannyapun mengatakan bahwa mereka kangen dengan Elang, mereka menanyakan kenapa Elang tidak masuk beberapa hari ini? Dan saya bingung menjawabnya, karena saya pun tidak mengetahui penyebab Elang tidak mau sekolah.ʺ tungkas Bu Salmah.

            ʺ Atau begini saja, kita coba masuk ke kelas, kita tanya kepada semua teman Elang, apakah terjadi sesuatu sebelumnya, yang menyebabkan Elang tidak mau berangkat sekolah lagi.ʺ usulku kepada Bu Salmah.

Nampaknya Bu Salmah setuju dan akan mencoba bertanya kepada teman – teman Elang di kelas. Dan akhirnya kami menyepakati untuk pulang kerumah kami masing – masing, karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WITA. Kemudian kami pun bergegas untuk pulang, kuambil sepedamotor dari tempat parkir tadi. Aku nyalakan, dan kubonceng Bu Salmah menyusuri jalan – jalan kota Bima, hingga sampai ke rumahku. Aku diantar pulang oleh Bu Salmah, karena sepedamotor yang kami pakai adalah sepedamotor Bu Salmah, kami menuju rumahku terlebih dahulu untuk mengantarkan aku, Barulah kemudian Bu Salmah pulang dengan mengendarai sepedamotornya sendiri.

#############

            Haripun berganti, seperti biasa, aku bangun pagi dan menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah sebelum aku bergegas menuju ke Sekolah SDN Oi Marai. Pagi ini seperti biasa, sapaan hangat dari murid – murid SDN Oi Marai membuat hari – hariku di sini semakin berwarna. Keceriaan mereka semakin membuat aku merasa betah berada disini. Satu per satu aku sapa dan aku salami mereka, serasa berada di antara malaikat – malaikat kecil yang bernyanyi dan menari di lapangan terbuka.

Kuletakkan tasku di kursi tempat dudukku, kuambil buku materi belajar dari dalam tasku dan kubuka. Tak lama kemudian Bu Salmah menghampiriku dan menyapa.

            ʺSelamat pagi Pak Topan.ʺ sapa Bu Salmah

            ʺ Selamat pagi Bu Salmah, sahutku.

Kemudian kami berdua melanjutkan diskusi perencanaan yang telah kami buat kemarin. Kami akan memproses penyebab Elang tidak mau lagi bersekolah. Dan akhirnya kami bersepakat, nanti pada saat jam istirahat pertama akan kami pergunakan untuk berproses di Kelas 6 dimana di kelas teersebut seharusnya Elang berada.

Bel tanda jam pertama dimulai berbunyi, aku segera menyiapkan diri untuk masuk kelas dan mengajar. Proses belajar kami berjalan seperti biasanya, ada tanya jawab, ada dinamika kelas, dan ada evaluasi. Sesi belajar pertama selesai hingga bel istirahat berbunyi. Anak – anak segera keluar kelas untuk beristirahat. Kulangkahkan kakiku langsung menuju ke ruang kelas 6, rupanya disana Bu Salmah telah menunggu. Kami pun berproses bersama dengan anak – anak kelas 6. Pada mulanya kami menanyakan kepada teman – temanya Elang di kelas 6 ini.

            ʺ Anak – anak, jika teman kalian ada yang tidak masuk, kalian merasa kangen tidak?ʺ tanyaku kepada anak – anak di kelas ini.

            ʺ Kangen Paaaaak,,,ʺ,jawab mereka serempak.

            ʺ Terus, adakah diantara teman kalian hari ini yang tidak masuk?ʺ tanyaku lagi.

            ʺ Ada Paaaaak,,,,ʺ sahut mereka.

            ʺ Siapa?ʺ tanyaku.

            ʺ Elang Paaaak,,,ʺ jawab mereka lagi.

            ʺ Adakah yang tahu, apa penyebab Elang tidak mau sekolah?ʺ tanyaku kepada mereka.

Kemudian kami terlibat aktif dalam diskusi, sementara Bu Salma tetap mendampingi proses diskusi di dalam kelas ini. Kami semua sama – sama mengumpulkan data melalui kesaksian beberapa teman, dan ternyata Elang terlibat konflik dengan teman satu kelasnya, setelah kami kumpulkan data melalui temannya yang berkonflik juga, kemudian data itu kami olah bersama – sama, sehingga kami mendapatkan beberapa kesimpulan seperti :

1.      Bercanda itu ada batasnya.

2.      Bercanda yang bersifat fisik maupun verbal sebaiknya tidak berlebihan.

3.      Dsb

Respon seseorang dalam menghadapi bercandaan pasti berbeda – beda, ada yang biasa – biasa saja, ada juga yang kemudian menjadi marah, sehingga perlu meminta maaf jika sudah membuat orang lain marah atau malu, sehingga kesalahan yang terjadi tidak akan diulangi lagi.

Banyak sekali hal yang didapat dari diskusi ini, namun sayangnya Elang tidak masuk, jadi teman yang berkonflik dengan Elang tidak dapat meminta maaf secara langsung kepada Elang.

Aku bertanya kepada anak – anak dikelas ini lagi.

            ʺ Anak – anak, bagaimana caranya agar kita dapat emnyampaikan apa yang sudah kita diskusikan hari ini kepada Elang ya?ʺ

            ʺ Kita SMS Pak.ʺ seru salah seorang anak

            ʺ Ya  baiklah, boleh juga dengan SMS. Tapi siapa yang akan SMS dan ke HP Siapa?ʺ tanyaku

            ʺ Ya Pak Topan yang SMS ke HP mamanya Elang.ʺ pinta seorang anak

            ʺ Loh, kok Pak Topan yang SMS?!ʺ tanyaku

            ʺ Iya, Pak Topan sebagai perantara kami, tetapi kami nanti yang bikin kata – katanya.ʺ ujar beberapa anak.

            ʺ Ni ada Ibu Salmah, mamanya Elang.ʺ kataku kepada mereka

            ʺ O iya.ʺ mereka baru sadar

            ʺ Adakah cara lain selain SMS?ʺ tanyaku lagi

            ʺ Whatssappʺ

            ʺ Teleconferenceʺ

            ʺ Video Callʺ

Diskusi untuk menentukan cara penyampaian maaf pun semakin seru.

            ʺ Baiklah kita pilih salah satu dari beberapa cara ini nanti ya. Sekarang kita diskusikan apa isinya.ʺ ajakku kepada mereka.

Kemudian seorang anak melontarkan gagasannya lagi.

            ʺ Sebentar Pak, bisakah kita merekam video, kemudian dikirimkan kepada Elang.ʺ

            ʺ Wah ide bagus tu, tentu bisa, jadi bagaimana, apakah kita akan memakai video?ʺ tanyaku memancing ide mereka lagi.

            ʺ Setujuʺ

            ʺ Setujuʺ

            ʺ Setujuʺ

Merka saling bersahutan.

            ʺ Baiklah, mari kita diskusikan bersama, menurut kalian isi videonya apa?ʺ

            ʺ Permintaan maaf, Pak. ʺ jawab mereka

            ʺ Bagus, permintaan maafnya dari siapa?ʺ

Kemudian anak yang berkonflik dengan Elang menimpali.

            ʺ Dari semua teman yang bersalah kepada Elang Pak, karena tidak semua teman ini bersalah kepada Elang.ʺ

            ʺ Baiklah, bagus sekali idenya, yang lain apakah setuju?ʺ

Mereka serempak dan semangat menjawab

            ʺSetujuʺ

            ʺSetujuʺ

Dalam diskusi ini muncul beberapa ide baru. Dan begini kata mereka

            ʺPak, kita perlu menanyakan kabar terbaru dari Elang.ʺ

            ʺPak, boleh saya bikin puisi untuk Elang?ʺ

Spontan aku berkomentar.

            ʺ Wah bagus sekali ide – ide kalian. Kita masukkan di video ya anak – anak. Mmmmm, jika Elang tidak masuk, apa sih yang kalian kangenin dari Elang?ʺ

ʺ Banyak Pak, dia suka bantuin saya piket kelas.ʺ

ʺ Senyumnya itu lho Pak, bikin gemes.ʺ

ʺ Elang tu sopan dan ramah.ʺ

ʺ Dia lucu,,,ʺ

Begitulah pendapat teman – teman sekelsanya, sebelum kami merekam videonya, ada pertanyaan yang kulontarkan lagi kepada anak – anak.

            ʺ Sebagai penutup di video, kita mau bilang apa kepada Elang?ʺ

            ʺKita ajak sekolah lagi.ʺ

            ʺKita ajak main lagiʺ

            ʺ Kita bilang, kita semua kangen dan nunggu Elang masuk sekolah lagi.ʺ

Akhirnya kami pun sepakat untuk membuat rekaman video, yang direkam melalui HP Bu Salmah, agar kemudian diserahkan kepada Elang, dan kami semua berharap Elang dapat segera masuk sekolah lagi.

Kegundahan Bu Salmah terpecahkan sudah, beliau tidak lagi galau. Karena hal yang menjadi penyebab Elang tidak mau masuk sekolah sudah terjawab, dan jalan keluarnya juga sudah ditemukan. Bu Salmah dapat tersenyum lega sekarang. Dan waktu istirahat yang hanya 15 menit menjadi ajang diskusi yang menarik untuk anak – anak, mereka belajar memproses kejadian, kemudian merefleksikan bersama kejadian mengenai sebab dan akibat. Dan beberapa kesimpulan sudah didapatkan dari diskusi yang menarik tadi. Bel tanda istirahat selesai telah berbunyi, saatnya aku kembali ke kelasku lagi, aku berpamitan kepada anak –anak untuk kembali ke kelas dan melanjutkan proses belajar mengajar lagi.

Diambil dari cuplikan novel "Puzzle Love" karya blogger

           

           

 

 

           

           

Komentar