“Ayah, bolehkah aku bermain bersama teman-teman di hutan?” tanya Upit.
“ Tentu saja boleh anakku, tetapi kamu harus ingat selalu pesan ayah”
“ Iya ayah, aku akan selalu mengingat semua pesan ayah.”sahut Upit.
Setelah mendapat ijin dari kedua orangtuanya, Upit bergegas menuju ke hutan. Dalam setiap hal, kedua orangtua Upit selalu berpesan agar anaknya selalu jaga diri, jaga teman dan jaga lingkungan. Karena pembiasaan itu ditanamkan sejak dini, maka Upit tumbuh menjadi anak yang penurut, selalu berhati-hati dalam berperilaku, agar tidak mudah menyakiti orang lain.
Ternyata sesampainya di hutan, beberapa teman Upit sudah berkumpul, antara lain Mimo si tikus kecil berwarna putih, Moka si monyet kecil, dan Donky si anjing kecil.
“Hai teman-teman.” Sapa Upit.
“Hai Upit, kami sudah bersiap untuk bermain bersama.” Sahut Moka.
“Ayo kita main!” Ajak Donky.
“Aku punya permainan seru.” Kata Mimo.
“Permainan apa?” Tanya mereka bersamaan.
“Kita bermain petualangan sambil memungut sampah yang ada di setiap jalan yang kita temui yuk!” Ajak Mimo.
“Aku mau tetapi jangan jauh-jauh ya.” Sahut Upit.
“Iya jangan jauh-jauh, agar kita nanti pulangnya kesorean.” Sahut Moka.
“Baiklah, jika nanti sudah lelah, kita sudahi saja permainannya.” Kata Mimo lagi.
Akhirnya merekapun segera memulai petualangan mereka. Mereka berjalan menyusuri hutan pinus dan memungut setiap sampah yang mereka temui. Mereka asik dengan permainan ini, hingga tak terasa waktu sudah hampir sore hari. Dan betapa kagetnya mereka, karena keasikan bermain, sampai-sampai lupa waktu.
“Teman-teman, ternyata waktu sudah hampir sore, yuk kita pulang.” Ajak Upit.
“Iya jangan sampai orangtua kita marah karena kita bermain hingga lupa waktu.” Kata Moka.
Dan merekapun segera bergegas pulang. Mereka berjalan bersama-sama karena tempat tinggal mereka berdekatan. Dalam perjalanan pulangpun mereka masih asik bercanda-bercanda dan tertawa-tertawa gembira. Namun perjalanan mereka tiba-tiba Moka terpeleset hingga menyebabkan kakinya terkilir dan luka. Mokapun menangis kesakitan karena nyeri luka dan terkilir.
“Aduh sakit sekali kakiku, sepertinya aku juga tidak dapat berjalan karena kakiku terkilir.” Kata Moka sambil menangis.
“Udah Moka, biar kami obati luka kakimu.” Kata Mimo.
“Iya, kamu duduk saja di bawah pohon itu.” Kata Upit sambil menunjuk pohon pinus di dekatnya.
“Ayo kita bantu.”Ajak Donky.
Kemudian merekapun membantu mengobati luka di kaki Moka dengan mengoleskan getah tanaman lidah buaya pada lukanya.
“Tahan sedikit ya Moka, supaya luka kamu segera kering setelah diolesi dengan getah lidah buaya ini.” Kata Upit.
Karena Moka tidak dapat berjalan, Donkypun menggendongnya.
“Ayo Moka aku gendong kamu sampai kerumah.” Kata Donky.
“Iya Moka, kaki kamu kan sakit, biar dibantu Donky sampai kerumahmu.” Kata Mimo.
Dan akhirnya merekapun melanjutkan perjalanan pulang dengan mengantar Moka terlebih dahulu.
Sesampainya dirumah, orangtua Moka sangat terkejut. Kenapa Moka sampai luka-luka dan digendong oleh Donky.
Setelah memberikan penjelasan, akhirnya orangtua Moka mengucapkan terimakasih kepada teman-teman Moka yang sudah membantu Moka hingga sampai kerumah. Mokapun juga mengucapkan terimakasih kepada teman-temannya yang sudah menolongnya. Tak lupa orangtua Moka juga berpesan, agar lainkali mereka lebih berhati-hati jika bermain.

Komentar
Posting Komentar